Bermanfaat bagi yang lainnya

Inilah Percakapan Lengkap Pilot MH370 Dengan ATC Sebelum Pesawat Hilang

Malaysia Airlines MH370 hilang
Sekitar satu jam sebelum Malaysia Airlines MH370 hilang kontak, pilot sempat berkomunikasi dengan air traffic control (ATC). Percakapan dimulai pada pukul 00.25 waktu Kuala Lumpur dan berakhir pada pukul 01.07.

Transkrip memuat pembicaraan dari hitungan waktu per 00.36 waktu Malaysia (GMT+7). Percakapan itu muncul berdasarkan pemberitaan telegraph.co.uk. Pilot adalah Fariq Abdul Hamid. Percakapan berlangsung di saat pesawat berada di wilayah udara Thailand.

Menurut para pakar, kalimat terakhir Fariq merupakan hal rutin dalam penerbangan. Akan tetapi co-pilot Fariq berulang-ulang menyebut posisi ketinggian pesawat di 35.000 kaki, sekitar 10 kilometer. Hal ini dinilai aneh. Perulangan yang mengundang pertanyaan tersebut muncul pada pembicaraan di detik-detik terakhir kontak. Berikut ini percakapannya seperti dilansir Republika Online:

KL Control Tower 00.36.30 MH370: ATC, ini MH370, selamat pagi.

ATC: selamat pagi, MH370. Ini menara pengontrol Kuala Lumpur. Harap tetap pada posisi A10 32R00. 36.50

MH370: A10, MH370 diterima 00.38.43

ATC: MH370, harap mengambil landasan 32R A10

MH370: landasan 32R A10, diterima. 00.40:38

ATC: MH370, posisi landasan 32 R siap. Diizinkan untuk lepas landas.

MH370: posisi sudah di 32R. Landasan sudah diizinkan untuk digunakan lepas landas.

MH370: diterima. Terimakasih. Selamat tinggal Kuala Lumpur. 00.42.05

MH370: MH370 sudah meninggalkan bandara. 00.42.10

ATC: MH370 posisi terlacak. Terbang dengan ketinggian 180. Ikuti perintah dan berbeloklah ke kiri. Tujuan IGARI waypoint00.42.40

MH370: Baiklah. Ketinggian 180 menuju IGARI waypoint MH370. Diterima 00.42.52

ATC: MH370 sudah terdeteksi radar Kuala Lumpur. Selamat malam.

MH370: 132,6 MH370. Diterima, radar Kuala Lumpur. 00.46.51

MH370: ATC Kuala Lumpur, ini MH370

ATC: MH370, harap tambah ketinggian menjadi 25 ribu kaki.46.54

MH370: MH370 menambah ketinggian 25 ribu kaki.50.06

ATC: MH370 tambah ketinggian menjadi 35000.50.09

MH370: ini MH370, terbang pada ketinggian 35001.01.14

MH370: MH370 tetap terbang pada ketinggian 35001.01.19

ATC: MH370 01.07.55

MH370: MH370 tetap terbang pada ketinggian 35001.08.00

ATC: MH37001.19.24

ATC: MH370, harap kontak kota Ho Chi Minh City 120,9. Selamat malam.

MH370L: baiklah. Selamat malam. []
 
*http://www.bersamadakwah.com/2014/03/inilah-percakapan-lengkap-pilot-mh370.html

Rejeki Tak Mungkin Salah Alamat

Pernah naik angkot? Pernah mengamati pola yang dilakukan oleh penumpang-penumpang atau sopirnya? Begitulah kira-kira konsep rejeki.

1. Ada penumpang yang sudah di depan pintu angkot. Tinggal selangkah lagi naik. Ternyata, si sopir menunjukkan gelagat akan ngetem dalam waktu yang lama. Berselang detik, ada angkot serupa yang menyalip angkot yang sedang berhenti itu. Alhasil, calon penumpang yang sudah di rahang pintu itu, berubah niat. Akhirnya, naik angkot yang barusan menyalip.

2. Ada satu penumpang. Sendirian. Duduk dengan manis. Tapi, dia sedang terburu-buru. Ternyata, eh ternyata, sopir angkotnya ngetem lama, pakai banget, karena menunggu angkotnya terisi penuh. Akhirnya, lantaran terburu-buru dan kesal, tentunya, sang penumpang yang sudah duduk di dalam pintu itu, serta merta keluar sembari ngomel-ngomel

3. Ada dua penumpang, menuju tujuan akhir. Di arah sebaliknya, ada segerombolan anak sekolah yang dikira oleh sopir angkot, bahwa mereka menunggu angkot jurusan yang dia sopiri. Nah, dengan mudahnya, dia berhenti, menepi, dan berkata kepada dua penumpangnya, "Maaf, turun di sini aja ya, saya gak sampai ke tujuan akhir." Dengan kesal, dua penumpang itu turun. Meski tanpa bayar, diturunkan di tengah jalan itu sesuatu yang mengesalkan dan tidak terhormat sedikitpun.

Dari ketiga kasus ini, semua menjelaskan kepada kita satu kaidah. Bahwa rejeki itu misteri Allah. Dia, bisa memberi kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dia juga sangat bisa untuk menahan rejeki siapa saja sesuai kehendakNya.

Jangankan penumpang yang baru naik, yang sudah naik pun; bisa turun seketika. Rejeki hilang, tidak ada transaksi. Bahkan, dalam kasus ketiga, rejeki yang tinggal mengunduh, ditinggalkan begitu saja, hanya karena mengira akan ada rejeki yang lebih baik. Padahal, belum tentu. Hanya sebetas perkiraan.

Hal lain yang perlu kita perhatikan, bahwa ia akan pergi. Meski kita kejar. Jika, dia memang bukan rejeki. Ia juga akan datang, meski kita menghindar, jika memang dia adalah rejeki jatah kita.

Sehingga, dalam setiap upaya, harus sungguh-sungguh dan memahami betul tentang konsep ini. Insya Allah, dengan pemahaman yang betul, kita tak perlu risau. Meskipun, sekarang tanggal tua.

Mari bersemangat, menyambut rejeki, berniat jihad. Untuk diri, istri, anak-anak, keluarga. Agar kita kuat, dan tidak meminta-meminta.[]


Penulis : Pirman
Redaktur Bersamadakwah.com



*http://www.bersamadakwah.com/2014/03/rejeki-tak-mungkin-salah-alamat.html

Kisah Mengharukan, Ketika Sahabat Nabi Wafat dan Tak Punya Kain Kafan

Padang pasir - ilustrasi
Shahabiyah itu menyadari bahwa suaminya akan wafat, tak lama lagi. Butir-butir air mata mulai membasahi pipinya.

“Mengapa engkau menangis?” tanya lelaki itu, yang tak lain adalah Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

“Bagaimana mungkin aku tidak menangis, sementara engkau akan wafat dan aku tidak punya kain untuk dijadikan kafan...” jawabnya sesenggukan.

“Jangan menangis, bergembiralah. Sebab saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan wafat seorang laki-laki diantara kalian di tanah gersang, disaksikan sekelompok orang beriman.’ Para sahabat yang mendengar hadits ini, semuanya telah meninggal di kota, di kampung, atau di tempat lain. Tinggallah aku yang kini akan meninggal di tanah gersang ini.”

Abu Dzar sengaja mengasingkan diri di tanah gersang perbatasan Madinah dan Rabdzah. Sebab, sahabat yang zuhud ini tak mau terkena fitnah dunia. Umat Islam saat itu telah mencapai kemenangan dan perluasan wilayah. Ia melihat banyak orang hidup mewah dan meninggalkan kesederhanaan. Ia telah berdakwah dan mengajak khalifah untuk menggerakkan umat Islam kembali hidup sederhana seperti pada zaman Nabi, namun dakwahnya yang ‘tegas’ dipandang sahabat lain tidak tepat dengan kondisi masyarakat. Akhirnya ia pun mengasingkan diri, demi persatuan umat Islam. Sebab ia menyadari, umat yang bersatu meski kehilangan sebagian sunnah, lebih baik daripada umat berpecah belah lalu musuh Islam mengalahkannya.

Beberapa saat kemudian sang istri keluar dari gubuk mereka dan melihat ke kanan dan ke kiri. Dan dengan izin Allah, rupanya ada rombongan musafir yang melintasi tempat itu.

“Tolong, lelaki muslim meninggal, kafanilah dia.”
“Siapa laki-laki ini?” tanya para musafir.
“Abu Dzar Al Ghifari.”
“Sahabat Rasulullah?”
“Iya..”

Dengan penuh haru mereka pun mendatangi Abu Dzar Al Ghifari. Salah seorang pemuda kebetulan membawa kain pemberian ibunya. Kain itulah yang dipakai untuk mengkafani Abu Dzar Al Ghifari. [IK/bersamadakwah]
 
*http://www.bersamadakwah.com/2014/03/kisah-mengharukan-ketika-sahabat-nabi.html

Iman Adalah Kehidupan


'Aidh al-Qarni

Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka ini, selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, kemurkaan, dan kehinaan.

{Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.}
(QS. Thaha: 124)

Tak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersihkannya, menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan yang benar kepada Allah s.w.t., Rabb semesta alam. Singkatnya, kehidupan akan terasa hambar tanpa iman.

Dalam pandangan para pembangkang Allah yang sama sekali tidak beriman, cara terbaik untuk menenangkan jiwa adalah dengan bunuh diri. Menurut mereka, dengan bunuh diri orang akan terbebas dari segala tekanan, kegelapan, dan bencana dalam hidupnya. Betapa malangnya hidup yang miskin iman! Dan betapa pedihnya siksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah di akherat kelak!

{Dan, (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat sesat.}
(QS. Al-An'am: 110)

Kini, sudah saatnya dunia menerima dengan tulus ikhlas dan beriman dengan sesungguhnya bahwa "tidak ada llah selain Allah". Betapapun, pengalaman dan uji coba manusia sepanjang sejarah kehidupan dunia ini dari abad ke abad telah membuktikan banyak hal; menyadarkan akal bahwa berhala-berhala itu takhayul belaka, kekafiran itu sumber petaka, pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya, dan Allah benarbenar Sang Pemilik kerajaan bumi dan langit— segala puji bagi Allah dan Dia sungguh-sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Seberapa besar — kuat atau lemah, hangat atau dingin — iman Anda, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan Anda.

{Barangsiapa mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.}
(QS. An-Nahl: 97)

Maksud kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dalam ayat ini adalah ketenangan jiwa mereka dikarenakan janji baik Rabb mereka, keteguhan hati mereka dalam mencintai Dzat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman, ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam menerima takdir. Dan itu semua adalah karena mereka benar-benar yakin dan tulus menerima bahwa Allah adalah Rabb mereka, Islam agama mereka, dan Muhammad adalah nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mereka. []

*La Tahzan

Resmi Menjadi Istri Dude, Alyssa Mantap Berhijab

Dude Harlino dan Alyssa Soebandono usai menikah - Foto: detik.com
Dude Harlino dan Alyssa Soebandono usai menikah – Foto: detik.com

dakwatuna.com – Jakarta.  Pernikahan Dude Harlino dan Alyssa Soebandono memberikan sebuah keberkahan sendiri bagi pasangan selebritis ini. Usai resmi menikah dengan Dude Harlino. Alyssa yang akrab disapa Icha mantap untuk berhijab.

Hal tersebut disampaikan usai prosesi Akad Nikah di Gedung Sasana Kriya, Mandira Ballroom, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (22/3/2014). Icha mengaku melewati proses panjang hingga akhirnya memutuskan berhijab.

“Insya Allah (mantap berhijab). Sebenarnya dari pertama kita bicara soal pernikahan kak Dude enggak memaksa apapun. Icha mendapat hidayah, insya Allah saat nikah nanti akan pakai hijab,” ujar Icha.
“Ini proses, kemarin ditanya itu Icha bilang insya Allah. Itu kan pribadi biar hanya saya dan orang terdekat tahu, semoga bisa istiqamah,” sambungnya.

Saat prosesi akad nikah, perempuan 25 Desember 1991 itu memang terlihat memakai penutup kepala yang menyerupai jilbab sebelum dipadu dengan sanggul. Baginya, hal itu menjadi salah satu proses sebelumnya akhirnya benar-benar menggunakan hijab.

Setelah memakai hijab tentunya timbul pertanyaan soal risiko yang diambil yang berhubungan pekerjaannya. Icha sendiri seperti sudah dengan matang memikirkan hal tersebut.

“Ketika memutuskan berhijab, saya memang ada kontrak hubungan dengan rambut. Setelah dipikirkan, saya mau taat sebagai perempuan, ada baiknya dilakukan ya. Mulai sekarang sampai nanti bisa dijalankan,” tegasnya.

Sedangkan Dude sendiri mengaku kagum dengan keputusan yang diambil sang istri untuk memakai hijab. Ia pun berharap apa yang dilakukan Icha bisa membuat istrinya menjadi sosok wanita yang lebih baik lagi.
“Di saat kita dekat lagi, Icha banyak belajar, saya sangat kagum dia ingin tahu banyak Alhamdulillah. Waktu Icha kasih tahu saya kaget dan bersyukur, saya mendukung dengan baik,” jelas Dude. (detik/sbb/dakwatuna)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/03/22/48234/resmi-menjadi-istri-dude-alyssa-mantap-berhijab/#ixzz2wk5lco64
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Daftar Postingan Terbaru

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/