Bermanfaat bagi yang lainnya
Home » » Hiasi Dirimu dengan Malu

Hiasi Dirimu dengan Malu

Hiasi dirimu dengan Malu
www.muslimah.or.id
Penulis: Ummu Salamah Farosyah

Semoga Allah Ta’ala senantiasa merahmatimu, saudariku…Malu, demikianlah nama sebuah sifat yang sangat lekat ketika kita berbicara tentang wanita. Maka beruntunglah engkau saudariku ketika Allah menciptakanmu dengan sifat malu yang ada pada dirimu! Karena apa? Hal ini tidak lain karena malu adalah bagian dari iman.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhu, "Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah melewati seorang Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena sangat pemalu, maka Rasulullah shallallahu ’alaihiwa sallam bersabda, “Biarkan dia karena rasa malu adalah bagian dari Iman." (HR. Bukhari Muslim)

Hakikat rasa malu itu adalah sebuah akhlak yang memotivasi diri untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan membentengi diri dari kecerobohan dalam memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Seorang muslimah akan menjauhkan dirinya dari larangan Allah dan selalu menaati Allah disebabkan rasa malunya kepada Allah yang telah memberikan kebaikan padanya yang tidak terhitung.

Perintah yang Dibawa oleh Setiap Nabi
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya diantara yang didapat manusia dari kalimat kenabian terdahulu ialah : Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu." (HR. Bukhari)

Yang dimaksud dengan “kalimat kenabian terdahulu” ialah bahwa rasamalu merupakan akhlaq yang terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap nabi dan tidak pernah dihapuskan dari syari’at para nabi sejak dahulu.
Dalam hadits ini disebutkan, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Kalimat ini mengandung 3 pengertian, yaitu:
  1. Berupa perintah : Jika perbuatan tersebut tidak mendatangkan rasa malu, maka lakukanlah. Karena perbuatan yang membuat rasa malu jika diketahui orang lain adalah perbuatan dosa.
  2. Berupa ancaman dan peringatan keras : Silahkan kamu melakukan apa yang kamu suka, karena azab sedang menanti orang yang tidak memiliki rasa malu. Berbuat sesuka hati, tidak peduli dengan orang lain.
  3. Berupa berita : Lakukan saja perbuatan buruk yang kamu tidak malu untuk melakukannya.

Malu? Siapa yang punya?

Sifat malu ada dua macam, yaitu:
1.   Malu yang merupakan watak asli manusia
Sifat malu jenis ini telah menjadi fitrah dan watak asli dari seseorang. Allah menganugerahkan sifat malu seperti ini kepada siapa saja yang dikehendaki- Nya. Memiliki sifat malu seperti ini adalah nikmat yang besar, karena sifat malu tidak akan memunculkan kecuali perbuatan yang baik bagi hamba-hamba- Nya.
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, dari Imran Ibn Hushainradhiyallahu fanhu: Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari Muslim)

2.   Malu yang diupayakan (dengan mempelajari syari’at)
Al-Qurthubi berkata, “Malu yang diupayakan inilah yang oleh Allah jadikan bagian dari keimanan. Malu jenis inilah yang dituntut, bukan malu karena watak atau tabiat. Jika seorang hamba dicabut rasa malunya, baik malu karena tabiat atau yang diupayakan, maka dia sudah tidak lagi memiliki pencegah yang dapat menyelamatkannya dari perbuatan jelek dan maksiat, sehingga jadilah dia setan yang terkutuk yang berjalan di muka bumi dalam wujud manusia.”


Hati-Hati terhadap Malu yang Tercela
Saudariku, ketahuilah bahwa ada malu yang disebut malu tercela, yaitu malu yang menjadikan pelakunya mengabaikan hak-hak Allah Ta’ala sehingga akhirnya dia beribadah kepada Allah dengan kebodohan. Diantara malu yang tercela adalah malu bertanya masalah agama, tidak menunaikan hak-hak secara sempurna, tidak memenuhi hak yang menjadi tanggung jawabnya, termasuk hak kaum muslimin.

Nah, saudariku, kini engkau tahu! Meskipun malu adalah tabiat dasar seorang wanita, sifat ini tidak boleh menghalangimu untuk berbuat kebaikan. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan sampai engkau menjadi wanita yang paling mulia di sisi Allah! Wallahu a’lam.

Maraaji’:
* Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi* Tarjamah Riyadhus Shalihin Jilid 2 Imam Nawawi, Takhrij: SyaikhM. Nashiruddin Al-Albani.* Buletin Tuhfatun Nisa: Rufaidah.


Sumber : http://dinrip.wordpress.com/category/renungan/page/3/


Umat Islam disuruh untuk Memiliki Sifat Malu
Zaman mutaakhir telah menampakkan kita akan banyak kepincangan perilaku, merosotnya akhlaq dan tersebarnya kemaksiatan. Sebahagian manusia telah hilang rasa malunya kepada orang lain. Disebabkan hilangnya perasaan malu, pelbagai tingkah laku tidak senonoh telah ditonjolkan ke tengah-tengah masyarakat.

Malu adalah sebahagian daripada iman. Sifat malu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap muslim. Malah Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam sendiri merupakan insan yang sangat pemalu. Diriwayatkan oleh Bukhari bahawa Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam lebih malu sifatnya dari seorang gadis yang di dalam pingitannya.

Pentingnya memiliki sifat malu. Kerana dengan perasaan malu yang terdapat pada diri, seseorang muslim akan mencegah dirinya dari membuat perkara yang dilarang. Dia akan malu untuk melakukan perkara tidak senonoh dan bermaksiat. Dia akan malu untuk pergi ke tempat yang tidak sepatutnya. Dia akan malu untuk cuba-cuba sesuatu yang mungkar. Dia akan malu menzahirkan perilaku buruknya. Kerana malu telah menjadi perisai dirinya.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri rodhiyallohu ‘anhu Dia berkata: Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:
“Sesungguhnya sebahagian ajaran yang masih dikenal umat manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah: ‘ Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR Bukhari)

Ajaran para nabi sejak dulu hingga nabi terakhir, Nabi Muhammad sallAllahu ‘alaihi wasallam ada sebahagiannya telah luput. Namun, malu adalah antara ajaran yang tidak luput hingga sekarang. Ini menunjukkan bahawa malu mempunyai nilai yang tinggi di dalam agama.

Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu” bukanlah kata-kata galakan untuk manusia berbuat sesuka hati. Tetapi ia bermaksud ancaman buat manusia yang tidak mempunyai perasaan malu untuk berbuat kerosakan dan kemaksiatan. Maksud ayat tersebut juga adalah ingin memberitahu bahawa malu adalah perisai kepada diri seseorang. Tanpa malu, seseorang akan terdedah untuk melakukan kemaksiatan.


Pernah diriwayatkan bahawa terdapat seorang Ansar yang memberikan nasihat kepada sahabatnya tentang malu. Beliau menyalahkan sahabatnya yang selalu malu dalam banyak hal. Kebetulan ketika itu Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam sedang lalu dan terdengar perbualan mereka berdua. Baginda sallAllahu ‘alaihi wasallam telah memberi pesan kepada orang yang memberi pesan kepada sahabatnya, dengan berkata:
 “Biarkanlah dia, kerana malu itu sebahagian daripada iman.”
Malah Nabi sallAllahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda tentang malu yang mafhumnya:

Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda :
“Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman.” (Shahih Muslim No.50)

Hadis riwayat Imran bin Husaini ra., ia berkata: Nabi saw. pernah bersabda:
“Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan.” (Shahih Muslim No.53)

Muslimin-muslimat sekalian,
Antara faktor kepincangan nilai di dalam masyarakat adalah hilangnya rasa malu dari dalam diri. Anak akan mula mengangkat suara dan kurang ajar terhadap ibubapa akibat lunturnya malu. Pelajar mula tidak hormat kepada gurunya apabila sudah hilang malu. Lelaki mula melangkah ke tempat maksiat akibat dia membuang perasaan malu. Perempuan mula tidak sopan di khalayak ramai kerana pudarnya malu. Si gadis mula mempamerkan diri di khalayak ramai apabila kendurnya malu. Pasangan bercinta mula berjumpa dan bercanda kerana mereka sudah tidak malu. Orang ramai mula meminta-minta jawatan apabila cairnya malu. Pengguna jalan raya mula melanggar peraturan jalan raya dan bersikap tidak beradab apabila kurang rasa malu. Masyarakat mula dihinggapi perasaan ingin popular seperti artis dan menyanyi melalak terlolong akibat tidak malu. Pemimpin mula menganggap jawatan dan amanah sebagai batu loncatan mengaut keuntungan apabila pudarnya malu. Pemerintah mula melakukan kezaliman, juga akibat dari hilangnya rasa malu. Dan macam-macam lagi.

Pendek kata, apabila rasa malu mula sedikit demi sedikit hilang dari seseorang, maka terbukalah pintu kemaksiatan dan fitnah bakal bermaharajalela. Sebab itu sifat malu penting untuk seseorang jaga dan pelihara. Jangan terpengaruh dengan sistem pendidikan barat yang mengajar anak-anak mereka agar tidak malu. “Just Do It” antara kata-kata popular di kalangan remaja dan masyarakat. Walaupun ada kebaikannya kepada diri dan masyarakat akan kata-kata itu, namun ia perlu diperhalusi. Agar kaum muslimin tidak lari dari nilai agama yang diajar Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam.


<span>Walaupun kita ummat ISLAM disuruh untuk memiliki sifat malu, namun dalam bab menuntut ilmu dan menyatakan yang haq kita seharusnya tidak terlalu dikongkong malu. Malah, wanita-wanita ketika zaman Rasulullah sallAllahu ‘alaihi wasallam tidak menghalangi diri mereka dari bertanya dan mendalami ilmu pengetahuan. Mereka tidak malu dalam menuntut ilmu. Sifat ini wajar kita contohi.

Malah dalam pepatah Melayu juga ada mengatakan bahawa “Malu bertanya sesat jalan”. Ini menunjukkan bahawa dalam mengeluarkan diri dari kejahilan dan kekaburan, jangan kita malu untuk bertanya dan menimba ilmu. Selain itu, rasa malu untuk melakukan kebaikan juga tidak patut ada di dalam diri manusia. Kerana ALLAH subhanahu wata’ala menyuruh hamba-hambaNYA agar berlumba-lumba membuat kebaikan.

Letaklah rasa malu di tempat yang sepatutnya. Malulah dalam kebanyakan hal, namun dalam bab ilmu, menyatakan kebenaran dan mengejar ganjaran untuk berbuat kebaikan jangan pula malu menghalangi diri kita. Namun, sifat malu tidak boleh juga dibuang apabila membuat ketiga-tiga perkara kebaikan tersebut. Ini kerana malu akan menjadi sempadan diri agar tidak melampaui batas, walaupun dalam hal membuat kebaikan.

Mudah-mudahan ALLAH subhanahu wata’ala memberikan hidayah dan taufiq-NYA kepada kita semua, amin...</span>
Sumber : http://www.iluvislam.com/v1/readarticle.php?article_id=2512


Malu itu Baik
Malu
Abu Mas’ud, Uqbah ibn Amr Anshari al Badri ra mengatakan bahwa Rasulullah saw berkata, ”Sabda Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, ‘Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu’,” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).

Jangan salah mengerti dengan hadis tersebut. Hadis di atas bukan berarti bahwa Rasulullah saw memberikan kebebasan tanpa batas pada manusia untuk bertindak semaunya. Sebaliknya, hadis itu merupakan sindiran bagi orang-orang yang tak punya malu berbuat kejahatan/kenistaan. Hadis yang disampaikan melalui Abu Mas’ud ra itu justru mengancam orang yang tidak mempunyai rasa malu dalam melakukan apa saja yang dia kehendaki dengan risiko ditanggung sendiri.
Ungkapan seperti itu juga dinyatakan Allah dalam firman-Nya, ”Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al Fushshilat: 40).

Malu memang bisa mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan nuraninya. Rasa malu pula yang membuat seseorang akan dikejar-kejar rasa bersalah. Karena itu, hakikatnya malu adalah salah satu perangkat yang diciptakan Allah untuk mencegah kita dari perbuatan dosa.
Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ”Malu hanya membawa kepada kebaikan,” (HR Bukhari dan Muslim).
Sesungguhnya rasa malu itu merupakan pagar yang paling kokoh untuk menjaga iman kita agar sendi-sendinya tidak tercerabut dan bangunannya tidak hancur. Sebagai contoh, bila ada orang melihat massa ramai-ramai menjarah dan membakar toko, lalu orang tersebut sadar bahwa perbuatan tersebut tergolong tindakan tercela, maka ia akan mencegah dirinya agar tak ikut-ikutan menjarah. Sebagai mukmin ia malu melakukannya. Andai para pejabat malu melakukan praktek-praktek korupsi, kolusi, dan nepotis, tentu masyarakat kita tak akan serusak seperti sekarang ini.

Di negara lain, Indonesia dikenal sebagai negara terkorup di Asia. Banyak pejabat, mungkin, selama ini merasa aman-aman saja ketika dia melakukan korupsi. Dalam hati mereka mungkin tak ada setitik pun rasa malu terhadap Allah yang jelas menyaksikan semua tindakan manusia. Mungkin mereka masih punya malu terhadap manusia lain, sehingga mereka merasa malu bila ketahuan. Tapi, rasa malu terhadap manusia pun mulai terkikis oleh anggapan, ”Ah, toh hampir semua pejabat melakukannya. Pejabat mana yang bisa kaya tanpa korupsi.” Hilangnya rasa malu terhadap Allah ini sungguh menyedihkan. Orang yang tak punya malu terhadap Allah akan cuek melanggar perintah dan larangan-larangan-Nya. Semua itu dilakukan tanpa rasa dan tanpa malu.

Semestinya kita bercermin pada sabda Rasulullah saw,
”Allah SWT itu lebih berhak untuk dimalui daripada manusia,” (HR Ashabu Sunan).

Dengan memegang sikap ini — yakni lebih malu kepada Allah ketimbang kepada manusia — maka insya Allah kita terjaga dari jurang kemaksiatan dan kenistaan.

Sumber : http://zainal99.wordpress.com/2009/04/28/malu-itu-baik/#more-290

“Jika engkau tidak malu berbagi sesuatu hal yang buruk, kebiasaan yang tidak baik dan kurang bermanfaat, lalu kenapa engkau harus malu membagikan suatu kebaikan ataupun hal-hal yang jelas-jelas bermanfaat?... Letakkan posisi rasa MALU-mu itu di posisi yang benar dan sesuai dengan yang semestinya”


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... Amin
Wassalam...

Semoga Bermanfaat...
Silahkan COPY atau SHARE ke rekan anda jika menurut Anda note ini bermanfaat...

Lampirkan sumbernya ya... Syukron

0 komentar:

Posting Komentar

Daftar Postingan Terbaru

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/