Bermanfaat bagi yang lainnya
Home » » Menikah Lantaran Bersin

Menikah Lantaran Bersin

ilustrasi menikah
Menikah selalu menjadi tema menarik untuk diperbincangkan di berbagai situasi. Karena menikah merupakan satu dari sekian banyak ekspresi cinta dalam beribadah kepada Sang Maha Menciptakan. Di mana semua kisah tentang cinta, akan selalu hangat jika dibahas dari sudut pandang manapun.

Sederhananya, silahkan bertanya kepada bapak atau ibu anda tentang awal mula mereka berkenalan, hingga kemudan memutuskan menikah. Yang ditanya, pasti berbinar sumringah ketika hendak memulai kisahnya. Jangan berhenti, lanjutkan pertanyaan tentang alasan apa yang menguatkan bapak anda sehingga meminang calon istrinya yang kini menjadi ibu bagi anda. Lalu, tanyakan pula kepada ibu, apa yang menjadi alasan bagi ibu sehingga dengan mantap menerima pinangan bapak anda.

Jika bapak atau ibu kita dahulu, tidak terlalu berbelit dan banyak kriteria terhadap calon istrinya, pun dengan ibu anda yang tak muluk-muluk mengharapkan pangeran dambaan jiwanya, maka di zaman kita ini, hal-hal seperti itu sangat jarang dijumpai.

Entah dari mana mulanya, banyak diantara kita yang banyak menerapkan syarat-syarat aneh tak berdalil dalam mematok calon pasangan hidup kita. Misalnya saja, seorang ibu yang mensyaratkan agar anak laki-lakinya mencari istri yang tinggi badannya, minimal sama dengan tinggi badan anaknya yang 170 cm. Ini mau memilih menantu atau pasukan pengibar bendera?

Atau misalnya, seorang pemuda yang selalu menjadikan wajah sebagai satu-satunya acuan dalam meminang. Jika putih, mengkilap dan mirip artis, barulah diterima. Padahal, agamanya tak menjamin keshalihannya. Namun, ketika yang disodorkan adalah wanita sholihah, dengan jilbab terjuntai, paras teduh bekas wudhu dan menunduk ketika memandang, juga sekian banyak kebaikan yang ia miliki, hanya karena wajah yang agak hitam lantaran rajin melakukan jaulah dakwah, serta merta, wanita sholikhah ini ditolak sebelum dilirik.

Mari, sedikit bernostalgia. Kembali ke tahun 90-an. Di mana ketika itu, dakwah mulai menggeliat di negeri kita ini. Di zaman itu, keshalihan menjadi sangat langka namun dibanggakan oleh penganutnya. Sehingga, keshalihan itu terwujud dalam tiap jenak. Baik itu fisik, pakaian, maupun laku. Hal ini dilengkapi dengan munculnya sosok-sosok berani yang bersemangat dalam menyempurnakan Islam sebagai agamanya. Tanpa berbelit, tanpa banyak alasan, dan sedikit syarat kecuali sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah yang mulia.

Ini kisah nyata, sebut saja namanya Andri. Dalam sebuah perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang menggunakan kereta api, dia ditakdirkan berhadapan tempat duduknya dengan seorang akhwat bernama Andriyani (bukan nama sebenarnya).

Menjelang sampai di Kota Lumpia itu, Andri ditakdirkan oleh Allah untuk bersin, “Haccccciiii...” Serta merta, lantaran gemblengan Islam yang selama ini ia peroleh dan semangat untuk mengamalkannya, lelaki muda ini berucap, “Alhamdulillah..” sebagaimana disunnahkan oleh Nabi. Tak disangka, tak dinyana, perempuan di hadapannya itu menyahut, sebagaimana disunnahkan oleh Nabi ketika mendengarkan orang yang bersin, “yarhamukallah.” Keduanya kemudian saling melirik sebelum akhirnya menundukkan pandangannya masing-masing. Dengan rasa yang tak biasa, Andri kembali menjawab doa yang dilantunkan wanita itu, “yahdikumullah.”

Peristiwa pengamalan sunnah ini terjadi begitu saja. Hingga akhirnya, mereka sampai di stasiun pemberhentian terakhir. Entah apa yang mendorong Andri, ia kemudian memberanikan dirinya untuk menanyakan nama bapak dan alamat perempuan yang menjawab bersinnya dengan doa yang disunnahkan nabi itu.

Bukankah ini hal yang aneh? Jika muda-mudi zaman sekarang, yang ditanya pasti nama, nomor hand phone, akun jejeraing sosial, dan seterusnya. Namun, Andri justru menanyakan nama bapak dan alamatnya.

Keduanya pun berpisah. Dengan tetap saling menundukkan pandangan untuk menguasai hatinya masing-masing. Hingga akhirnya, waktu berjalan beberapa bulan kemudian.

Andri membawa orang tuanya untuk mencari alamat orang tua perempuan yang berhasil menarik hatinya itu. Berbekal nama dan alamat yang diberikan, meski dengan sedikit kesulitan, akhirnya ditemukanlah apa yang mereka cari.

Yang ditamui, kaget bukan kepalang. Seperti ketiban durian runtuh. Disilaturahimi keluarga asing yang langsung mengenalkan diri dengan penuh keakraban. Kebahagiaan bertambah ketika orang tua Andri berkata, “Jadi, maksud kedatangan kami adalah untuk menjalin silaturahim.” Yang punya rumah mengangguk bahagia, dengan senym sumringah.

Tamu yang baru dikenal itu, kemudian melanjutkan penyampaian misinya, “Di samping itu, kami hendak melamar anak bapak untuk anak kami,” sembari menunjuk ke arah anaknya, Andri. Tuan rumah, langsung tercekat. Bingung, haru, bercampur bahagia tak terlukis.

Perbincanganpun kemudian berlanjut dengan kisah cinta yang bersemi di kereta api Jakarta-Semarang bersebab bersinnya Andri. Kedua keluarga itu akhirnya terlibat dalam perbincangan seru, penuh kehangatan dan sarat makna. Yang tak kalah mengejutkan, perempuan shalihah berjilbab rapi itu langsung menerima lamaran lelaki yang datang secara kstaria bersama keluarganya itu.

Akhirnya, keduanya mengikat tali suci bernama pernikahan. Hingga saat ini, keduanya bahagia dengan pilihannya. Bahwa mereka memilih menjaga kesucian dengan menikah. Dengan cara seksama, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Andri, memutuskan memilih Andriyani lantaran ciri keshalihan yang dia temui pada diri wanita itu saat berjumpa di kereta api, pada pertemuan yang hanya sekali itu. Dan Andriyani, menerima lamaran lelaki itu, lantaran ia mengucap hamdalah saat bersin, dan itu satu diantara sekian banyaknya ciri keshalihan. Di samping itu, keberanian diri Andri bersama keluarganya untuk langsung datang ke rumah orang tuanya, merupakan bukti keshalihan lain yang bermakna keseriusan. Andri berani memutuskan untuk memilih demi menjaga kesucian hati, berani melangkah untuk menggapai barokah walimah.

Semoga, Allah hadirkan di zaman kita ini, laki-laki shalih semacam Andri, juga wanita-wanita baik hati semacam Andriyani. Bahkan, lebih baik dari keduanya. Aamiin. []


Penulis : Pirman
Redaksi Bersamadakwah.com


*http://www.bersamadakwah.com/2014/02/menikah-lantaran-bersin.html

0 komentar:

Poskan Komentar

Daftar Postingan Terbaru

Agenda Harian

Semoga kita senantiasa terpacu untuk mengukir prestasi amal yang akan memperberat timbangan kebaikan di yaumil akhir, berikut rangkaian yang bisa dilakukan

1. Agenda pada sepertiga malam akhir

a. Menunaikan shalat tahajjud dengan memanjangkan waktu pada saat ruku’ dan sujud di dalamnya,

b. Menunaikan shalat witir

c. Duduk untuk berdoa dan memohon ampun kepada Allah hingga azan subuh

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Sesungguhnya Allah SWT selalu turun pada setiap malam menuju langit dunia saat 1/3 malam terakhir, dan Dia berkata: “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, dan barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni”. (HR. Bukhari Muslim)


2. Agenda Setelah Terbit Fajar

a. Menjawab seruan azan untuk shalat subuh

” الَّلهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِي وَعَدْتَهُ “

“Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini, shalat yang telah dikumandangkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan karunia, dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan. (Ditashih oleh Al-Albani)

b. Menunaikan shalat sunnah fajar di rumah dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Dua rakaat sunnah fajar lebih baik dari dunia dan segala isinya”. (Muslim)

وَ قَدْ قَرَأَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِي رَكْعَتَي الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدَ

“Nabi saw pada dua rakaat sunnah fajar membaca surat “Qul ya ayyuhal kafirun” dan “Qul huwallahu ahad”.

c. Menunaikan shalat subuh berjamaah di masjid –khususnya- bagi laki-laki.

Rasulullah saw bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتْمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Sekiranya manusia tahu apa yang ada dalam kegelapan dan subuh maka mereka akan mendatanginya walau dalam keadaan tergopoh-gopoh” (Muttafaqun alaih)

بَشِّرِ الْمَشَّائِيْنَ فِي الظّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّوْرِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Berikanlah kabar gembira kepada para pejalan di kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sempurna pada hari kiamat”. (Tirmidzi dan ibnu Majah)

d. Menyibukkan diri dengan doa, dzikir atau tilawah Al-Quran hingga waktu iqamat shalat

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ

“Doa antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak” (Ahmad dan Tirmidzi dan Abu Daud)

e. Duduk di masjid bagi laki-laki /mushalla bagi wanita untuk berdzikir dan membaca dzikir waktu pagi

Dalam hadits nabi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إَذَا صَلَّى الْفَجْرَ تَرَبَّعَ فِي مَجْلِسِهِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ الْحَسَنَاءُ

” Nabi saw jika selesai shalat fajar duduk di tempat duduknya hingga terbit matahari yang ke kuning-kuningan”. (Muslim)

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya waktu fajar itu disaksikan (malaikat). (Al-Isra : 78) Dan memiliki komitmen sesuai kemampuannya untuk selalu:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah lebih banyak dari itu semua, maka akan menuai kebaikan berlimpah insya Allah.

3. Menunaikan shalat Dhuha walau hanya dua rakaat

Rasulullah saw bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya, setiap hari ketika matahari terbit. Mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, menolong orang dengan membantunya menaiki kendaraan atau mengangkat kan barang ke atas kendaraannya adalah sedekah, kata-kata yang baik adalah sedekah, tiap-tiap langkahmu untuk mengerjakan shalat adalah sedekah, dan membersihkan rintangan dari jalan adalah sedekah”. (Bukhari dan Muslim)

4. Berangkat kerja atau belajar dengan berharap karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمِلِ يَدِهِ، وَكَانَ دَاوُدُ لا يَأْكُلُ إِلا مِنْ عَمِلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan, lebih baik dari yang didapat oleh tangannya sendiri, dan bahwa nabi Daud makan dari hasil tangannya sendiri”. (Bukhari)

Dalam hadits lainnya nabi juga bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga”. (Muslim)

d. Menyibukkan diri dengan dzikir sepanjang hari

Allah berfirman :

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang” (Ra’ad : 28)

Rasulullah saw bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهَ أَنْ تَمُوْتَ ولسانُك رَطْبٌ من ذِكْرِ الله

“Sebaik-baik perbuatan kepada Allah adalah saat engkau mati sementara lidahmu basah dari berdzikir kepada Allah” (Thabrani dan Ibnu Hibban) .

5. Agenda saat shalat Zhuhur

a. Menjawab azan untuk shalat Zhuhur, lalu menunaikan shalat Zhuhur berjamaah di Masjid khususnya bagi laki-laki

b. Menunaikan sunnah rawatib sebelum Zhuhur 4 rakaat dan 2 rakaat setelah Zhuhur

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang shalat 12 rakaat pada siang dan malam hari maka Allah akan membangunkan baginya dengannya rumah di surga”. (Muslim).

6. Agenda saat dan setelah shalat Ashar

a. Menjawab azan untuk shalat Ashar, kemudian dilanjutkan dengan menunaikan shalat Ashar secara berjamaah di masjid

b. Mendengarkan nasihat di masjid (jika ada)

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ

“Barangsiapa yang pergi ke masjid tidak menginginkan yang lain kecuali belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya ganjaran haji secara sempurna”. (Thabrani – hasan shahih)

c. Istirahat sejenak dengan niat yang karena Allah

Rasulullah saw bersabda:

وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

“Sesungguhnya bagi setiap tubuh atasmu ada haknya”.

Agenda prioritas:

Membaca Al-Quran dan berkomitmen semampunya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan, maka akan menuai kebaikan yang berlimpah insya Allah.

7. Agenda sebelum Maghrib

a. Memperhatikan urusan rumah tangga – melakukan mudzakarah – Menghafal Al-Quran

b. Mendengarkan ceramah, nasihat, khutbah, untaian hikmah atau dakwah melalui media

c. Menyibukkan diri dengan doa

Rasulullah saw bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah”

8. Agenda setelah terbenam matahari

a. Menjawab azan untuk shalat Maghrib

b. Menunaikan shalat Maghrib secara berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki)

c. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Maghrib – 2 rakaat

d. Membaca dzikir sore

e. Mempersiapkan diri untuk shalat Isya lalu melangkahkan kaki menuju masjid

Rasulullah saw bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci/berwudhu kemudian berjalan menuju salah satu dari rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban Allah, maka langkah-langkahnya akan menggugurkan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajatnya”. (Muslim)

9. Agenda pada waktu shalat Isya

a. Menjawab azan untuk shalat Isya kemudian menunaikan shalat Isya secara jamaah di masjid

b. Menunaikan shalat sunnah rawatib setelah Isya – 2 rakaat

c. Duduk bersama keluarga/melakukan silaturahim

d. Mendengarkan ceramah, nasihat dan untaian hikmah di Masjid

e. Dakwah melalui media atau lainnya

f. Melakukan mudzakarah

g. Menghafal Al-Quran

Agenda prioritas

Membaca Al-Quran dengan berkomitmen sesuai dengan kemampuannya untuk:

- Membaca ½ hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 1 kali

- Membaca 1 hizb dari Al-Quran untuk mendapatkan khatam Al-Quran sebanyak 2 kali

- Bagi yang mampu menambah sesuai kemampuan bacaan maka telah menuai kebaikan berlimpah insya Allah.


Apa yang kita jelaskan di sini merupakan contoh, sehingga tidak harus sama persis dengan yang kami sampaikan, kondisional tergantung masing-masing individu. Semoga ikhtiar ini bisa memandu kita untuk optimalisasi ibadah insya Allah. Allahu a’lam

Jazaakillah

Sedikit revisi dari : http://www.al-ikhwan.net/agenda-harian-ramadhan-menuju-bahagia-di-bulan-ramadhan-2989/